gallery/judul web
gallery/medsos1
gallery/medsos2
gallery/medsos3
gallery/medsos4

Galeri

Twitter

Video terbaru

jadwal-sholat

Jadwal Sholat

Video terbaru

Keluarga mempunyai peranan penting dalam memberikan corak dan warna masyarakat suatu bangsa. Pendidikan yang baik pada masing-masing keluarga dapat mengantarkan suatu bangsa menuju sebuah kemajuan dan kejayaan peradaban. Sebaliknya, bilamana pendidikan pada masing-masing keluarga sudah tidak menjadi perhatian dan cenderung dibiarkan, maka cepat atau lambat kerusakan moral akan menggerogoti anak-anak dan generasi muda bangsa tersebut. Maka masyarakat tak ubahnya bagaikan sebuah bangunan di mana keluarga sebagai salah satu pondasinya.

Keluarga adalah pendidik yang pertama dan utama bagi anak. Keluarga menjadi lingkungan pertama pembentuk kepribadian anak. Keberhasilan pendidikan di keluarga menjadi pondasi karakter anak. Menurut Imam al-Ghazali, “Anak adalah amanat di tangan kedua orangtuanya. Hatinya yang suci adalah mutiara yang masih mentah, belum dipahat maupun dibentuk. Mutiara ini dapat dipahat dalam bentuk apapun, mudah condong kepada segala sesuatu”. 

Hal ini berarti bahwa peran orang tua untuk memberikan teladan dan pendidikan kepada anak adalah hal yang sangat penting. Apabila orang tua dan keluarga membiasakan dan mendidik anak dengan hal-hal yang baik, maka anak akan tumbuh dengan kebaikkan itu. Namun apabila keluarga mendidik dengan keburukan dan dilalaikan pendidikannya maka anak akan tumbuh dengan keburukan.  

Seorang anak akan tumbuh dan berkembang menjadi dewasa diantara keluarganya. Anak akan terbentuk karakternya sesuai apa yang menjadi kebiasaan dan dibiasakan oleh ayah, ibu dan keluarganya. Maka penguatan peran keluarga untuk memberikan pengaruh yang baik mutlak untuk dilakukan. Keluarga harus memiliki visi yang jelas, orang tua harus pula memiliki kesamaan visi agar karakter yang dibentukkan ke anak tidak saling bertolak belakang. Orang tua memiliki tanggung jawab utama untuk mendidik anak-anaknya. 

Hal itu sebagaimana hadist dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bawasannya Rasulullah Saw bersabda: “Setiap kalian adalah penggembala dan setiap kalian bertanggung jawab atas gembalaannya. Seorang pemimpin adalah penggembala dan dia bertanggung jawab atas gembalaannya. Seorang laki-laki adalah penggembala di keluarganya dan dia bertanggung jawab atas gembalaannya. Seorang wanita adalah penggembala di rumah suaminya dan dia bertanggung jawab atas gembalaannya. Seorang pelayan adalah penggembala pada harta majikannya dan dia bertanggung jawab atas gembalaannya. Setiap kalian adalah  penggembala dan setiap kalian bertanggung jawab atas gembalanya” (Mutatafaqun ‘alayh).

Perlu upaya yang serius dan kerja keras secara terus menerus dalam mendidik anak, memperbaiki kesalahan mereka serta membiasakan anak-anak untuk selalu mengerjakan kebaikan. Orangtua bertanggung jawab penuh untuk mengajari anak-anaknya melakukan hal-hal yang baik, mengontrol anak-anaknya melakukan kebaikkan dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan oleh anak-anaknya. 

Sesungguhnya Allah Swt berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkanNya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (Qs. At Tahrim [66] : 6).

Keluarga memiliki peran untuk menumbuhkan karakter anak, hal itu bisa dicapai ketika keluarga mampu melakukan hal-hal berikut ini, yakni :

1. Menampilkan suri teladan yang baik

Suri teladan yang baik memiliki pengaruh terhadap kepribadian anak. Apa yang dilakukan oleh anak adalah hasil dari meniru dan mayoritas sikap anak adalah meniru keluarganya. Maka kedua orangtua harus mampu menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya apabila menginkan anaknya memiliki karakter yang baik. 

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa mengatakan kepada anak kecil, ‘kemarilah aku beri sesuatu’. Namun dia tidak memberinya, maka itu adalah suatu kedustaan”. 

Anak selalu meihat perilaku orang-orang di sekitarnya, pada usia anak-anak sebagian besar waktu anak dihabiskan bersama orangtuanya ataupun keluarganya. Jika anak-anak melihat kedua orangtua dan keluarganya berlaku jujur, maka mereka akan tumbuh dengan kejujuran. Begitu pula dengan sikap dan kebiasaan baik lainnya, apabila anak melihat contoh dan teladan dari orangtuanya maka anak akan cenderung melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh orangtuanya. Maka apabila orangtua dan keluarga justru mencontohkan hal sebaliknya atau hal yang tidak baik maka anak akan melakukan hal yang tidak baik pula.
    
2. Mencari waktu yang tepat untuk memberikan nasihat 

Hal ini jarang dipahami oleh kebanyakan orangtua dalam memilih waktu yang tepat untuk memberikan arahan atau nasihat kepada anak. Ketika orangtua mampu memilih waktu yang tepat untuk memberikan pengarahan kepada anak, maka akan mampu memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil nasihat yang diberikan. Hal ini dikarenakan terkadang anak bisa menerima pengarahan sewaktu-waktu, namun juga terkadang juga pada waktu yang lain menolak nasihat. Sehingga memperhatikan secara teliti tentang waktu dan tempat yang tepat untuk memberikan nasihat, membangun pola pikir, mengarahkan perilaku dan menumbuhkan akhlaq yang baik pada diri anak perlu untuk dilakukan. Ada 3 waktu yang tepat untuk memberikan nasihat kepada anak, yaitu :

a. Dalam perjalanan
Dari Ibnu Abbas rashiyallahu ‘anhuma, Nabi Saw diberi hadiah seekor bighal oleh Kisra. Beliau menungganginya dengan tali kekang dari serabut. Beliau memboncengkanku di belakangnya. Kemuadian beliau berjalan. Tidak beberapa lama, beliau menoleh dan memanggil, “Hai anak kecil”. Aku jawab, “Labbaika, wahai Rasulullah”. Beliau bersabda, “Jagalah agama Allah, niscaya Dia Menjagamu….hadis”.

b. Waktu makan
Mendampingi anak untuk makan dan memberikan pengarahan serta mengajarkan anak tentang adab.  Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Umar bin Abi Salamah ra, ia berkata : aku masih anak-anak ketika berada dalam pengawasan Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam. Tanganku bergerak ke sana ke mari di nampan makanan. Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda kepadaku, “Hai anak kecil, ucapkanlah basmalah, makanlah dengan tangan kanan dan makanlah apa yang ada dihadapanmu”. Sejak saat itu, begitulah cara makanku.  

c. Waktu anak sakit
Sakit dapat melunakkan hati yang keras. Ketika anak kecil sakit ada dua keutamaan yang terkumpul padanya untuk meluruskan kesalahan dan perilakunya, bahkan keyakinannya, yakni keutamaan fitrah anak dan keutamaan lunaknya hati ketika sakit. Diriwayatkan oleh Bukhari dari Anas ra, ia berkata : Seorang anak Yahudi yang menjadi pelayan Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam sakit. Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam datang menjenguknya. Beliau duduk di dekat kepalanya dan bersabda kepadanya, “Masuk Islamlah engkau”. Dia melihat ke arah bapaknya yang saat itu juga berada di sana. Si bapak berkata, “Turutilah Abdul Qosim”. Maka, dia pun masuk Islam. Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam pergi sambil berdoa, “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka”.

3. Bersikap adil dan menyamakan pemberian untuk anak

Orangtua harus berlaku adil dan menyamakan pemberian baik material maupun spiritual untuk anak-anaknya. Jangan sampai timbul iri dengki antar saudaranya karena ketidakadilan yang diberikan oleh kedua orangtuanya. Orangtua juga tidak diperkenankan menampakkan kecintaan kepada salah satu anak di hadapan saudara-saudaranya. 

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari an-Nu’man bin Basyir ra, bahwa bapaknya membawanya menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam dan berkata, “Sesungguhnya aku akan memberikan seorang budakku kepada anakku ini”. Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bertanya, “Apakah seluruh anakmu engkau beri pemberian yang sama dengan pemberianmu kepadanya?”. Dia menjawab, “Tidak”. Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bersabda, “Janganlah engkau persaksikan aku dalam kejahatan”. Kemudian beliau melanjutkan, “Apakah engkau mau kalau sikap berbakti yang mereka berikan sama?”. Dia menjawab, “Ya”. Beliau bersabda, “Kalau begitu tidak”. Dalam riwayat Muslim disebutkan : Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bertanya, “Apakah engkau memperlakukan semua anakmu dengan demikian?”. Dia menjawab, “Tidak”. Beliau bersabda, “Bertaqwalah kepada Allah dan berlaku adillah kepada anak-anakmu”. Maka bapakku menarik kembali pemberian itu”.

4. Menunaikan hak anak

Menunaikan hak anak dan menerima kebenaran darinya dapat menumbuhkan perasaan positif dalam diri anak dan sebagai pembelajaran bahwa kehidupan itu adalah memberi dan menerima. Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Sahl bin Sa’ad ra, bahwasannya Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam diberi minuman. Beliau minum. Sementara di samping kanan beliau duduklah seorang anak, dan di samping kiri beliau duduk orang-orang dewasa. Beliau bersabda kepada anak itu, “Apakah engkau mengizinkanku untuk memberi minum kepada mereka (terlebih dahulu)?”. Dia menjawab, “Tidak, aku tidak akan memberikan bagianku darimu kepada seorang pun”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam meletakkan cawan itu dari tangannya.

5. Memberikan anak mainan edukatif
Memberikan mainan edukatif sesuai dengan usia dan kemampuannya menjadi hal yang penting untuk merangsang potensinya. Ada beberapa kriteria mainan yang baik untuk anak, yakni :

a. Mainan yang diberikan memicu anak untuk bergerak, yang dengan mainan tersebut jasmaninya menjadi sehat.
b. Mainan yang dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan inisiatif anak.
c. Mainan yang mendorong anak untuk meniru tingkah laku dan cara berpikir (positif) orang dewasa.

6. Tidak suka marah dan mencela
Sering memarahi anak hanya akan menjadikan anak semakin sulit diatur, apalagi memarahinya tanpa sebab yang jelas. Mencelanya juga menjadikan anak menjadi penakut. Ketika kedua orangtua mencela anaknya, sesungguhnya mereka telah mencela diri mereka sendiri. Sebab, apa yang dilakukan oleh anak adalah hasil didikan orangtua dan keluarganya. 

Diriwayatkan oleh Ahmad dari Anas ra, ia berkata : Aku menjadi pembantu Nabi Shallallahu ‘alayhi  wa Sallam selama sepuluh tahun. Tidaklah beliau memberiku perintah, lalu aku lama mengerjakannya, atau tidak aku kerjakan sama sekali, melainkan beliau tidak mencelaku. Apabila ada salah satu anggota keluarga beliau yang mencelaku, beliau bersabda, “Biarkanlah dia. Kalau dia mampu, pasti dilakukannya”.

7. Mendoakan anak
Mendoakan anak adalah bentuk kasih sayang dan ketulusan orangtua dalam mendidik anak. Abu Hamzah bin Abdillah berkata, “Aku bertanya kepada Abu Ubaidah bin Utbah bin Mas’ud, “Apa yang engkau ingat dari Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam?”. Dia menjawab, “Aku ingat bahwa beliau menggendongku ketika aku berumur lima tahun atau enam tahun, kemudian beliau mendudukanku di pangkuan beliau, mengusap kepalaku dan mendoakan keberkahan bagiku serta anak cucuku”. Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam kitab Mustadraknya.

Jika orangtua dan keluarga memperhatikan ke tujuh hal di atas, melakukan dan meningkatkan kualitasnya maka tak mustahil akan terbentuk generasi yang berkarakter dan siap untuk menjadi pemimpin negeri ini di masa yang akan datang. Karena dari rahim keluarga yang berkarakter akan melahirkan generasi yang berkarakter pula. Ketika anak dibiasakan melakukan hal-hal yang baik oleh lingkungan, terutama oleh keluarga maka akan menjadi kebiasaan mereka melakukan kebaikkan. Bila dilakukan secara terus menerus kebiasaan baik itu, maka akan menjadi kebudayaan yang baik. Ketika budaya yang baik tersebut konsisten dilakukan, maka akan terbentuk karakter yang baik pula. Tentu keluarga yang baik terbentuk dari masyarakat yang berkarakter dan sudah menjadi keharusan Negara untuk berperan aktif melakukan pengutan fungsi keluarga sebagai pilar penting peradaban.   

Wijaya Kurnia Santoso 
Praktisi Pendidikan

gallery/judul 7 cara